Rejeki Itu Dijemput Dengan (sedikit) Usaha

Rejeki-Itu-Dijemput-Dengan-(sedikit)-Usaha

Photo Credit : www.powerball4life.co

Suatu ketika saya menemukan uang 5000-an lecek dan kumal dari saku celana belakang. Saya ingat itu adalah uang sisa kembalian waktu membeli sesuatu di mini market.

Uang tersebut sengaja saya taruh di saku celana belakang agar mudah dipakai membayar sesuatu, daripada di taruh di dompet yang biasanya dompet saya taruh di dalam tas rangsel. Pun saya juga tidak menaruh uang itu di saku depan, karena saku depan sudah penuh dengan HP dan kunci motor.

Akhirnya uang itu mengendap di saku celana sangat lama, hingga celana pernah dicuci berkali-kali. Dan sayapun lupa pernah menaruh uang di situ.

****

Pada hari itu, saya diajak oleh bapak mertua untuk mengantar adik ipar dan keluarganya ke terminal depok. Mereka mau pulang kampung di H+3 ke tasikmalaya.

Karena cuma mengantar, saya cuma melenggang kangkung tanpa membawa dompet … Ngikut saja, karena mungkin tugas utama saya hanya membawakan barang bawaan untuk mudik ke ruang tunggu, yang memang waktu itu banyak sekali yang harus dibawa.

Setelah saling berpamitan dan mereka naik bus tujuan tasikmalaya, kamipun bergegas menuju mobil untuk pulang.

Saat mobil bapak ingin keluar dari tempat parkir dan ingin membayar parkir, ternyata bapak tidak ada uang receh. Saya pun ditanyai apakah saya punya uang receh.

Wah, ga ada pak, saya lupa membawa dompet“, saya jawab seperti itu, tapi sambil meraba-raba saku celana kali aja ada uang receh yang nyangkut disitu.

Eh, bentar pak … Ini ada 5000-an nyempil di saku belakang, bisa buat bayar parkir pak“, saya memberikan uang tersebut untuk membayat parkir.

Masih ingat betul itu uang gocengan yang sudah saya ceritakan di atas. Alhamdulillah, ternyata uang tersebut ditakdirkan untuk diberikan ke tukang parkir di terminal depok.

***

Selepas kejadian itu saya jadi membayangkan …

Bagaimana jika saya tak mendapat kembalian 5000an dari mini market, tapi recehan 2000an, atau koin 1000an?

Bagaimana jika uang 5000 itu tak sengaja saya taruh di saku celana belakang?

Bagaimana jika waktu itu saya tak diajak bapak mertua untuk mengantar adik ipar?

Bagaimana jika kami langsung pulang tanpa memarkirkan mobil di terminal Depok?

Dan masih banyak lagi pertanyaan “bagaimana-bagaimana” lainnya yang keluar dari pikiran saya.

Ternyata kalau dijabarkan, ada banyak sekali kemungkinan penghalang suatu kejadian yang dalam hal ini adalah uang 5000 agar sampai ke pak tukang parkir.

Kemudian pertanyaan ini muncul …

Apakah mungkin ada uang 5000 lain atau uang dengan nominal lebih besar yang akan datang ke pak tukang parkir di waktu yang sama, jika saya waktu itu tidak ikut mengantar ke terminal depok?

Saya masih belum bisa menjawabnya … Tapi menurut subjektif saya, jawabannya bisa iya … bisa tidak.

Penjelasannya?

Bisa jadi 5000 itu rejeki untuk pak tukang parkir yang sudah digariskan, atau bisa jadi sebaliknya, bukan rejeki dia.

Saya tak tahu … Mungkin nanti saya menemukan jawabannya kalau Alloh mengijinkan … Wallohu A’lam bishshowab.

***

Ok, balik lagi ke uang 5000 …

Dari kacamata saya, uang 5000 ini sudah ada sejak saya mendapat uang kembalian dari mini market. Ia-nya melewati waktu, mungkin 1 – 4 minggu, saya lupa tepatnya, dan pernah dicuci berkali-kali, masih tetap utuh, hingga akhirnya ikut terbawa lumayan jauh, namun tetap di saku celana, menuju ke calon penerima berikutnya.

Sedangkan si penerima dalam hal ini pak tukang parkir terminal depok, kesehariannya hanya datang dari rumah ke terminal, mungkin pada jam yang sama tiap harinya, terus kemudian melakukan aktifitas membantu memberi panduan pengunjung terminal yang membawa mobil, agar terparkir dengan rapi. Tidak lebih tidak kurang.

Jika dibandingkan antara rejeki (uang 5000) dengan si penerima (pak tukang parkir), dalam hal jarak tempuh antara mereka sebelum bertemu hingga akhirnya bertemu, maka lebih jauh dan lebih berliku perjalanan rejeki (uang 5000) daripada si penerimanya.

Jadi dari contoh di atas, menurut saya, rejeki itu tidak perlu dicari . . . rejeki sudah ada dan sudah disiapkan oleh Alloh.

Dan rejeki harusnya dijemput … karena ia-nya sudah melewati berjuta/beratus kilometer untuk sampai ke kita, sudah melewati sehari, seminggu, sebulan atau mungkin jutaan waktu hingga sampai ke kita.

Tugas kita hanya sedikit bergerak … Iya sedikit, ga banyak … untuk menjemputnya … Dengan apa yang kita bisa lakukan saat ini.

Seperti halnya pak tukang parkir yang datang ke terminal Depok dan membantu memarkirkan mobil/motor, sebagai syarat agar rejeki sampai ke dia.

Ya memang seperti itulah salah satu sunnatulloh agar rejeki sampai ke kita, yaitu menjemput dengan usaha membantu dan melayani sesama makhluk-Nya.

Seorang anak mau makan, cukup dengan berusaha datang ke meja makan. Ibunya sudah menyiapkan makanan di situ. Dimana makanan seperti nasi dan ikan, datang dari negeri yang jauh agar sampai ke perut sang anak.

Seekor cicak kelaparan. Ia cukup datang ke lampu nyang menyala terang. Nyamuk dan laron yang memiliki sayap — yang mestinya mustahil bisa dengan mudah di tangkap cicak yang tak bersayap — sudah datang entah dari mana siap disantap cicak dengan sekali caplok … Tinggal lheep!

Masih banyak contoh lainnya yang tidak akan ceritakan karena nanti terlalu panjang artikelnya … kamu pun bosan untuk membaca sampai selesai. Akhirnya malah tak terbaca kesimpulannya … Jadi sudah sampai di sini saja contohnya.

***

Jadi, kalau KAMU *nunjuk orang yang ada di cermin*

Masih belum percaya bahwa jatah rejekimu belum disiapkan …

Masih belum percaya bahwa kamu cuma butuh bergerak sedikit untuk mendapatkan rejekimu …

Masih percaya kalau menjemput rejeki itu susah …

Baiknya kamu buang egomu dan kemalasanmu, lalu baca lagi artikel ini … Renungkan lagi, dan istighfarlah … Tugas kita hanya sedikit bergerak untuk usaha … Jangan sampai kalah sama cicak ah !

Akhir kata, saya selipkan translate se-ayat suci sebagai pengingat untuk saya sendiri dan untuk Anda yang membaca sampai sini :

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:13)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s