Mendadak #Kamtis

memdadak-jadi-kamtis---endank-soekamti

Endank Soekamti (Photo Credit : ngomongbae.com)

Kamtis adalah sebutan fans yang die hard dari grup band asal jogja, Endank Soekamti. Maksudnya die hard disini adalah ketika Endank Soekamti manggung di ditempat tertentu, mereka para fans akan tetap mendatangi konsernya, membeli semua merchandhisenya, mendengar dan hafal setiap lagunya, serta memakai atribut yang menunjukkan bahwa mereka fans Endank Soekamti.

Akhir-akhir ini, saya mulai mendadak kamtis, walaupun baru sebatas mendengarkan lagunya, hampir setiap hari, tidak semua lagu, hanya beberapa lagu yang klik di telinga saya.

Dan kali ini saya akan bercerita tentang kenapa saya mendadak jadi kamtis. Saya tidak menjanjikan cerita ini menarik buat Anda, tapi bisa jadi setelah Anda membaca ini, Anda memiliki perspektif lain dalam melihat suatu hal.

Mungkin ada yang bertanya, “mendengarkan lagu saja ditulis di blog, buat apa?” … Jawaban saya, ngga buat apa-apa, saya hanya berbagi cerita yang kebetulan lewat di kehidupan saya, siapa tahu bermanfaat buat Anda yang baca.

Kalau penasaran monggo lanjut … Siapkan kopi bro, cerita ini akan sangat puanjaaang. Semoga Anda ga bosan … Hehehe.

Penjajahan Musik part 1

Perkenalan pertama saya (atau lebih tepatnya dipaksa untuk mendengarkan) dengan lagu Endank Soekamti adalah saat album pertama mereka yang berjudul Kelas 1, diluncurkan.

kelas 1 endank soekamti

Album kelas 1 – endank soekamti (photo credit : itunes.apple.com)

2003 adalah tahun pertama saya kuliah, masih ngekos di depan Jl. Ir. Sutami Solo, sekamar dengan teman pria–namanya upil (jangan tanya kenapa dipanggil upil, soalnya penjelasannya jadi panjang lebar), yang akhirnya menjadi konco kuenthèl sampai sekarang, walau kami berjauhan.

Weitz, sekamar dengan pria bukan berarti kami ada disorientasi seksual lho ya … tapi semata-mata demi stabilitas nasional keuangan kami agar bisa bertahan hidup hingga akhir bulan, dengan standard menu minimal bisa makan nasi hik 2 bungkus, tempe 1, sate koya 1 dan es teh, untuk paket makan 3 kali sehari.

Masa itu, dimana kawula muda seperti saya masih suka mendengarkan lagu melow 07Des-nya Sheila on 7 dan mbak sexy Audy dengan tarikan suara yang mendesah itu, tiba-tiba dikejutkan dengan lagu punk yang waktu itu saya tidak tahu siapa yang nyanyi, dari mana asalnya.

Upil berhasil menjajah dan memperkosa selera musik saya dengan menyetel lagu punk berbahasa indonesia yang suara musik dan vokalnya masih belum bisa diterima telinga perawan saya.

Lagu punk yang sudah ngetrend jaman itu dan yang sudah pernah saya dengar adalah Blink 182, itupun lagu yang ter-melownya berjudul I Miss You. Jadi ya, saya masih sangat terasa aneh mendengarkan lagu bahasa indonesia dengan alunan musik punk dan vokal aksen medhog jawa serta nama band menggunakan nama seorang wanita, Endank Soekamti.

Hampir tiap pagi dia mengeraskan suara speaker sambil karaokean, baca lirik di bungkus cover kasetnya. Saya tak bisa melarang untuk tak nyetel lagu itu, lha wong dia yang punya tape recorder dan kasetnya, yo wes nikmati saja lagunya.

koneksi kaset dan pensil

Kalau kau tahu hubungan antara pensil dengan kaset pita, berarti kita seumuran 🙂 (photo credit : http:// adaddyblog.com/)

Jaman itu kaset tape masih jadi jawara. Kami masih sering ke toko kaset, mengkoleksi album-album idola kami … VCD dan bajakan mp3 masih belum mendominasi, sepertinya musisi masih makmur dan tak mengeluhkan adanya bajakan.

Setelah mendengarkan lagunya berkali-kali, awalnya kepala saya ngangguk-ngangguk, lalu menggeleng-geleng secara otomatis. Lalu mulai keceplosan ikut karaoke menyanyikan lirik lagunya.

Ahahaha …. Saya sudah keracunan Endank Soekamti.

Carikan ku cinta, ku kan setia

Sampai jompo, kita akan bersama

Berdua sampai tua

Carikan cintaaaa ….

(Reff lagu Carikan Cinta,  album kelas 1 – Endank Soekamti)

Baca cuplikan liriknya sambil nonton video cover song Carikan Cinta di bawah ini … Tahu ga, gara-gara upload cover song ini, mas Jalu (nama yang nyanyi) sekarang diproduseri untuk membuat album sendiri.

Sudah denger lagunya? … Gimana ga keracunan cobak, lirik lagu pertamanya saja sudah cocok dengan fakir asmara seperti kami pada waktu itu … Oalah mblo … mbloo.

 

Saya Tak Suka, Saya Tak Suka, Saya Tak Suka

Setiap individu tentunya mempunyai prinsip yang mendasar yang mungkin berbeda dengan individu lain. Saya mempunyai belief yang tertanam sejak kecil dan mengendap menjadi sebuah prinsip.

Seperti, tato itu tidak baik, identik dengan anak nakal, begal, preman atau lebih parah lagi, penjahat. Tato juga dilarang oleh agama saya, karena tato akan menghalangi air saat mau mensucikan diri sebelum beribadah.

Piercing/tindik/anting juga tak baik untuk pria, karena jika dipakai akan menyerupai wanita. Dalam agama saya, pria juga dilarang memakai tindik/anting.

Karena saya mempunyai prinsip tersebut, dan kesan pertama setelah melihat wujud tampilan band-nya identik dengan tato dan tindik, secara otomatis pikiran dan tubuh ini menjauhi secara perlahan subjek yang memiliki ciri tersebut.

Ini juga terjadi ketika saya berhadapan orang yang memakai tindik dan tato di dunia nyata. Secara otomatis penglihatan akan mengirimkan info ke otak, berupa ketidak-nyamanan, ketakutan, jauhi konflik. Dan otak akan merespon dan memerintahkan seluruh tubuh untuk menjauh dari mereka.

Anda pernah mengalami juga kan?

Menjauhi hal-hal yang Anda tak suka, walaupun pada kenyataannya belum tentu yang Anda jauhi itu tidak bermanfaat untuk Anda.

Misal, Anda tak suka dengan buah A, tentu ketika Anda melihat buah A, Anda tidak mengambilnya tapi malah menjauhinya kan? Padahal buah A sebenarnya baik untuk kesehatan organ tubuh B … Seperti itulah kondisi yang saya rasakan waktu itu.

Akhirnya, karena prinsip tersebut, saya mundur teratur dan mulai melupakan Endank Soekamti. Toh ada banyak band dan penyanyi lain yang enak lagunya, bisa klik di telinga dan tak menimbulkan konflik batin.

Endank Soekamti pada waktu itu juga bukan band yang saya pilih dari hati untuk didengarkan tiap hari, ini kan karena tape dan kasetnya punya teman saya, dan terpaksa saya dengarkan saja karena disetel setiap hari.

Endank Soekamti-pun terlupakan . . .

 

Penjajahan Musik part 2

Setelah sekian lama tak mendengarkan Endank Soekamti, tiba-tiba di November 2015 ini, teman sekantor saya mulai mengumandangkan lagu-lagu besutan Endank Soekamti dari meja kubikel di belakang saya.

Tak jauh beda dengan penjajahan musik part 1, disini saya juga dijajah gegara saya tak punya sound speaker yang bisa mendominasi ruangan.

Suaranya menggema di ruangan kantor kami, yang kebetulan kantor kami menganut paham “silakan setel musik apa saja asal kerjaan kelar“. Dan itu memudahkan kami mengekspresikan lagu apa yang kami suka.

Hanya sayangnya paham ini berlaku bagi karyawan yang punya sound speaker saja. Kalau yang tak punya dan hanya bermodal earphone seperti saya, ya akhirnya hanya terima nasib terjajah selera musiknya.

Apa yang terjadi tahun ini

Jangan diingkari, simpan dalam hati

Jadikan itu suatu kenangan

Bangkitkan harapan, untuk masa depan

 

Siapkan dirimu, sambut tahun baru

Mari menghitung waktuuu

(Empat, tiga, dua, satuu!)

(Selamat Tahun Baru – album Angka 8, Endank Soekamti)

Penjajahan musik kali ini membuat saya bernostalgia, mengingatkan awal pertama kali mendengar Endank Soekamti yang sudah saya tulis di bagian penjajahan musik part 1 di atas.

Entahlah, mungkin karena sudah lama tak mendengarkan lagu Endank Soekamti, sepertinya saya merasa kurang greget. Sepertinya bukan karena lagunya, tapi karena image kesan pertama terhadap penampakan band ini dan saya-pun beranggapan, “ah ini lagu nostalgia, masa-masa itu sudah lewat, umur tak semuda dulu, udah ngaji saja, nderes quran“.

Dan waktu itu saya tak ngebet untuk segera ngopi mp3-nya. Maaf ya Om Erix, kami masih menikmati karyamu dari hasil bajakan, ini khilafiyah dari salah satu kamtis abal-abal .. Maaf.

 

DOES Penyebab Saya Kembali Menyukai Endank Soekamti Dengan Cara Yang Berbeda

Entah kebetulan atau tidak, masih di bulan yang sama, November 2015, tiba-tiba ada teman saya yang membagikan link youtube yang berjudul “Percakapan Suami Istri” di komentar status facebook yang lagi membahas tentang pentingnya bisa berbahasa inggris demi menghadapi #MEA.

Saya yang penasaran dengan bahasa inggris — karena saya sudah beberapa kali ikut kursus bahasa inggris tapi speaking saya masih acakadut, dan saya merasa terprovokasi dengan judul video youtubenya — ya kali aja ada pengetahuan baru tentang menjalin hubungan antara suami istri, akhirnya saya ngeklik linknya.

Setelah membaca nama akunnya, waktu itu saya masih berasumsi datar, “wah sepertinya ini salah satu personil Endank Soekamti, karena ada embel-embel soekamti di nama akunnya“.

Tenan iki! … Sampai di episode kehidupan saya saat itu, saya masih belum kenal siapa saja nama personil Endank Soekamti. Walaupun karyanya sudah pernah saya dengar dari tahun 2003, jaman awal saya kuliah.

Video dengan setting kebanyakan berada di dalam mobil ini, berisikan tentang percakapan sehari-hari antara suami istri, tapi berbahasa inggris. Yang menarik disini adalah mereka bukan expert dalam berbahasa inggris, tapi sedang praktek berbahasa inggris khusus di hari tertentu, agar lebih fasih dalam speaking in english.

Aksen javenglish (java english) pun meluncur dari mulut mereka, yang membuat saya sedikit senyum-senyum. Saya orang jawa tengah, dan medhog juga, jadi ketika melihat mereka bercakap-cakap, saya seolah-olah melihat saya sendiri yang sedang berbincang pakai javenglish dengan istri saya …. Hihi, asik dan lucu.

Merasa terhibur, akhirnya saya mencoba membuka video lain di channelnya Erix Soekamti. Ternyata di setiap video yang di share di channel youtube tersebut, ada minimal 1 pengetahuan baru yang membuat saya semakin penasaran untuk menonton video-video lainnya … Wah menginspirasi nih video-videonya … Jadi ketagihan euy.

 

Sètèl Kendho

Ada benang merah di beberapa part video yang membuat saya merasa senasib, sepemikiran, sesuku, sehingga menyebabkan saya mulai menyukai Endank Soekamti lewat personality-nya mas Erix.

Dalam ilmu psikologi yang pernah saya baca, bahwa orang akan lebih cenderung cepat dekat/mengumpul dengan orang yang memiliki banyak kesamaan. Nah kalau dalam teknik jualan dimana penjual mencoba mencari-cari kesamaan lalu menyamakan dengan calon pembeli, itu disebut teknik mirroring. – ini cuma selingan aja.

Terus bagaimana dengan image pertama dan prinsip tadi?

Seiring bertambahnya umur, ada beberapa pemikiran yang tergeser dan lebih bijak dalam menyikapi sesuatu.

Tentu prinsip yang disebut di atas tadi, masih tetap saya pegang kuat dalam diri. Saya hanya mengendalikan respon yang akan dilakukan ketika saya melihat hal-hal yang bergesekan dengan prinsip yang saya pegang, dengan cara yang lebih di bijak … disètèl kendho bro!.

Ada beberapa hal yang sudah masuk wilayah privasi, sehingga itu sudah menjadi urusan pribadi masing-masing.

Mengingatkan boleh, tapi tidak kalau untuk memaksa. Saya tak boleh memaksa ke seseorang menghindari A, B, C karena dalam keyakinan saya itu dilarang, begitu juga sebaliknya.

Saya menggeser belief mengenai tato dan piercing yang cenderung ke image nakal, begal, preman atau penjahat ke image yang lebih baik, JIKA … Iya, jika ada sesuatu kebaikan dari orang tersebut yang bisa ditiru.

Jaman sekarang tato dan piercing sudah jadi lifestyle bagi sebagian orang, tidak hanya spesifik untuk preman dan penjahat saja.

Rugi jika saya masih terlalu memegang image jaman dulu tentang tato dan piercing, lalu cepat-cepat menghakimi dan menjauhi orangnya. Padahal bisa saja ada kebaikan-kebaikan yang bisa saya ambil dan tiru untuk menambah pengetahuan saya.

Terus tato dan piercing-nya? … Ya tinggalkan aja, jangan ditiru. Ambil yang baik, buang yang tak sesuai dengan prinsip saya. Itupun juga di-amin-kan mas Erix selaku owner dari channel tersebut dalam salah satu videonya di bawah ini.

Toh, prosentase pesan kebaikan di video-videonya lebih banyak daripada pesan (yang menurut prinsip saya) negatif.

 

Saya jadi tahu …

Akhirnya, setelah melihat sampai habis setiap video yang ada di channel tersebut, saya jadi tahu kalau ini adalah Vlog (blog dalam bentuk video … Sepertinya 2016 bakal semakin ngetrend) yang menceritakan keseharian mas Erix Soekamti bassis, vokalis, leader, director di Endank Soekamti, yang diberi judul Dairy Of Erix Soekamti yang disingkat #DOES.

Saya juga akhirnya tahu siapa saja nama personil Endank Soekamti, siapa saja crew-crewnya (yang ternyata mereka juga sebagai pemain di beberapa video klip).

Saya jadi tahu juga bagaimana mereka berjuang agar tetep eksis di dunia musik indonesia saat badai musik melayu ngetrend.

Seandainya teman kantor saya, ngotot tetep main band dan kreatif dalam berpromosi seperti Endank Soekamti, mungkin sekarang dia sudah konser keliling dunia, tak hanya duduk manis di kubikel samping saya … Hai teman apa kabarmu disitu? 🙂

Saya jadi tahu bagaimana mereka benar-benar memperhatikan para kamtis terutama kamtiswati agar aman saat lihat konser … Aman dari copet dan perusuh.

Saya jadi tahu bagaimana mereka membuat karya setelah lepas dari label yang menaunginya. Menghasilkan karya dengan slogan “mandiri dalam bekerja, merdeka dalam berkarya” … Kereen!.

Saya jadi tahu mimpi dari mas Erix untuk mendirikan sekolah yang berdasar minat bakat seseorang (Does University yang dimulai dari kelas animasi). Dimana mimpi itu bermula dari tidak ada sekolah yang cocok untuknya menyalurkan bakatnya di musik, sebagai bassis.

Saya jadi tahu mimpi lain dari mas Erix untuk merevolusi industri musik agar bisa tetap bertahan walau toko kaset dan CD seperti Disc Tarra tutup.

Saya jadi tahu dibalik tampilan sangar dan usilnya pemain band, ternyata juga manusia yang punya istri dan care dengan anak-anaknya … Kita sama-sama punya 2 buntut (baca : anak) mas … Huehehe 🙂

Saya jadi tahu dibelakang kesuksesan mas Erix ada seorang ibu yang mendukungnya … Gara-gara nonton video ini saya jadi teringat alm. ibu saya … Mbrebes mili … Hiks.

Sepertinya akan panjang jika membahas semua isi video #DOES ini. Lebih baik Anda menonton sendiri saja ya, Hehe … Yang sabar nontonnya, ada lebih dari 130 episode.

 

Sakmènè

Bagi saya vlog #DOES ini sangat membantu mendekatkan viewer/penonton youtube yang non kamtis dengan mas Erix Soekamti sebagai personil Endank Soekamti, yang secara tak langsung akhirnya dapat memperkenalkan dan  mendekatkan Endank Soekamti dengan yang non kamtis … Cedhakè sak mènè!.

SAKMENE

Dan berdasarkan klaim dari mas Erix, Endank Soekamti adalah pionir band indonesia yang memanfaatkan youtube sebagai alat marketing sekaligus sebagai tempat menyimpan dokumentasi dari apa yang sudah pernah dicapai … Marketingnya ciamik pooool!

Dan berkat #DOES ini saya jadi menyukai Endank Soekamti lagi dengan cara yang berbeda dan tetap memegang prinsip saya (no tato, tindik, alkohol). Mas Erix banyak memberikan inspirasi di channel youtubenya tanpa ada pencitraan, apa adanya. Karena dia beranggapan, kalau membuat diary tiap hari dengan pencitraan, ditakutkan akan menjadi blunder di kemudian hari.

 

Apakah saya sudah kamtis?

Ya ndak tahu, wong saya juga menikmati lagunya hanya via mp3, masih bajakan … Lebih memilih nonton channel #DOES dan Endank Soekamti di youtube daripada langsung nonton konsernya … belum punya koleksi merchandhise-nya juga.

Tapi walaupun begitu dari youtube, sekarang saya jadi tahu hampir daleman di Endank Soekamti. Saya juga bisa melihat bagaimana sebuah karya diciptakan, sehingga timbul rasa perlunya menghargai setiap karya orang lain dengan membeli karya yang original.

Kalau belum bisa beli windows for PC yang asli, ya paling tidak ojo ngrungokke musik dari hasil mp3 bajakan, terutama lagu ciptaan musisi indonesia. Itulah salah satu pesan yang saya tangkap dari salah satu video di #DOES. Dan kalau kamu kamtis, support idolamu dengan membeli karya Endank Soekamti yang asli … Mas Erix ditunggu album barunya, saya pesan satu! … Biar resmi jadi kamtis. 🙂

Pesan Buat Mas Erix

Sepertinya banyak sekali kamtis yang jadi blogger juga. Mungkin bisa diberdayakan untuk mereview apa saja tentang Endank Soekamti atau review tentang album baru yang mau di rilis … Lumayan bisa jadi backlink juga di website resminya juga 🙂

Oh iya, jangan percaya 100% dari apa yang saya tulis, karena tulisan saya hanya opini subjektif yang bisa saja benar, bisa saja salah. Silakan tonton sendiri dan ambil hikmahnya. 🙂

Terima kasih sudah baca sampai sini, semoga bermanfaat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s