Kembali KepadaNya

tunjukilah kami jalan yang lurus

Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Sebenarnya saya agak kurang enak menyampaikan catatan ini, karena saya sendiri masih banyak sikap yang perlu dibenahi juga. Bahkan kalau lagi ‘lupa’ bisa-bisa perilaku saya jauh dari yang saya tuliskan berikut.

Namun 1 hal yang pasti bahwa ilmu adalah sesuatu yang suci, yang harus kita sampaikan untuk orang-orang setelah kita, meskipun kita sendiri belum sempurna untuk mengamalkan ilmunya.

Mudah-mudahan, dengan menyampaikan ilmu tersebut saya bisa istiqomah menjalankan apa yang sudah saya tuliskan. Kalau dalam bahasa sononya “Walk the talk”.

Sebagai seorang muslim kadang saya melihat peristiwa/ kejadian yg dialami keluarga, teman, atau bahkan saya sendiri, disikapi dengan hal-hal yang kurang islami, maksudnya kurang bisa menemukan solusi yang sudah ada di Al-Qur’an atau hadist.

Padahal seharusnya, kita mengembalikan setiap masalah kepada Alloh, dan mencari solusinya di Al Qur’an dan hadist.

***

Berikut beberapa cerita kejadian yang masih bisa saya ingat dengan baik. Semoga setiap kejadian tersebut menjadi pengingat kita pada umumnya dan saya sendiri pada khususnya, agar dijauhkan dari hal-hal yang tak disukai-Nya.

Nek ora ngutang yo ora iso nduwe omah mas“, kata sopir taksi yang sedang mengantarkan saya dari stasiun Pekalongan ke rumah ayah saya di Medono Indah. Itulah salah satu perkataan pak sopir yang masih saya ingat waktu mudik ke Pekalongan kemarin, disamping beberapa diskusi pendek lainnya.

Kala itu saya menanyakan rumah pak sopir dimana, sebagai balasan pertanyaan ketika dia menanyakan rumah saya dimana dan naik kereta dari mana.

Dia menjelaskan kalau baru beberapa bulan kemarin dia pindah rumah. Dari rumah kontrakan akhirnya bisa beli rumah sendiri lewat KPR.

***

Pokoke, nek ora Kerja di Jakarta ora bakal sukses. Wes kono golek gawean nang Jakarta, seng penting tekun, giat le nyambut gawe, mesti suksese“, kata salah satu orang tua kepada anaknya yang susah mencari pekerjaan di kota tempat tinggalnya.

Perkataan orang tersebut begitu meyakinkan dan sangat mengharapkan anaknya bekerja di Jakarta, karena dari pengalaman hidupnya, banyak orang yang pernah dia temui di dalam hidupnya menjadi sukses dari sisi materi ketika ‘hijrah’ mencari pekerjaan di Jakarta.

***

Harga semahal ini mana bisa dijual di kota ini, orang sini mah lebih milih produk di pasar malam, yang harganya lebih terjangkau, jelas kalah saing nih“, kata seorang teman yang pesimis menjual produk kaos anak muslim yang harganya memang sedikit premium.

Kepesimisan tersebut datang dari nasehat seorang teman yang mengatakan bahwa, kaos anak model seperti itu sudah banyak yang dijual di pasar malam dan harganya jauh lebih miring daripada yang ini.

***

Mana bisa gaji segini bisa memenuhi kebutuhan keluarga, buat kebutuhan sehari-hari aja nge-pas, apalagi buat asuransi anak, buat biaya anak sekolah nanti, buat beli rumah, buat beli mobil“, kata seorang istri ibu rumah tangga kepada suaminya yang bergaji cukup untuk memenuhi kebutuhan bulanan pada waktu itu.

Kalau dipikir-pikir curhatan sang istri tersebut realistis juga, kondisi yang saat ini aja sudah nge-pas, apalagi nanti kebutuhan di masa mendatang kalau anak sudah besar, dan kebutuhannya semakin banyak.

***

Mana bisa gua berhenti merokok, justru dengan merokok ide-ide bermunculan, perasaan lebih tenang kalau menghadapi masalah, rasanya sempurna kalau habis makan itu ditutup dengan merokok, atau malah mending uang makan buat beli rokok saja“, kata beberapa teman yang menjadi perokok aktif.

***

Kalau tidak membayar sejumlah uang, mana bisa lolos CPNS di kota ini, wong kemarin saja si A sudah membayar ratusan juta tidak lolos juga“, kata seorang teman yang menganggap kalau tidak ada uang ‘pelicin’ maka akan sangat susah masuk CPNS.

Dia sangat mempercayai bahwa pekerjaan yang nyaman dan terjamin adalah menjadi seorang PNS dan apa saja akan dilakukan agar bisa masuk PNS.

***

Wes tuwo ngene opo yo ono seng gelem (nikah) mbek aku, mas?“, kata seorang teman yang masih belum melepas masa lajangnya hingga usia hampir 40 tahun.

***

Memang, kita tak ada yang berhak menghakimi seseorang tanpa melihat keseluruhan masalah secara utuh, baik itu yang kelihatan maupun yang tersembunyi. Pun walaupun kita sudah tahu kondisi seseorang secara utuh, tetap kita tidak berhak untuk menghakimi seseorang. Karena hanya DIA-lah satu satunya yang berhak untuk menghakiminya.

Disini saya mencoba menjelaskan uneg-uneg yang ada di hati karena mendengar perkataan yang saya cuplikkan di setiap awal cerita.

Apa yang saya sampaikan ini, sifatnya lebih subjektif dari sudut pandang saya, dan  semoga bisa menjadi bahan pertimbangan.

Baiklah, begini, kadang kita membuat ‘belief’ yang kurang memberdayakan, namun kita mempercayainya dengan sangat kuat, bahkan kadang lebih dipercayai melebihi agamanya sendiri. Iya, agama sendiri, yang sudah sangat kuat tertanam di diri sejak kecil, tapi kadang masih saja kita tidak mematuhinya, ya bolos sholat lah, malas baca qur’an lah, dll.

Malah ‘belief’ yang seperti beberapa cerita di atas, dipercayai melebihi kepercayaan kita terhadap agama bahkan sangat susah untuk dilanggar.

Maksud ‘belief’ di sini adalah suatu statement/pernyataan yang kita ucapkan pada kondisi tertentu kalau kita bisa/tidak bisa melakukan sesuatu karena ada syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Kita sangat mempercayai itu dan menganggap itu benar.

Coba baca contoh cerita pertama di atas, “nek ora ngutang yo ora iso duwe omah” … “Kalau tidak hutang ya tidak bisa mempunyai (beli) rumah”.

Dari kalimat diatas kan ada kecenderungan bahwa dia sangat meyakini bahwa kalau dia tidak bisa memiliki/membeli rumah, kecuali hanya dengan cara dia berhutang, bisa lewat KPR atau yang lain.

Begitu juga dengan cuplikan cerita yang lainnya, cerita tersebut hampir memiliki kondisi yang sama dengan kesimpulan yang hampir sama pula.

Beberapa belief yang tertanam dipikiran mereka sebenarnya kurang memberdayakan dan cenderung negatif.

Dan ternyata karena belief ini, mereka tidak sadar telah mengecilkan peran Alloh yang membuat scenario kehidupan terbaik dan mendahului takdir dengan berkata-kata pesimis seolah-olah ya memang begitu adanya, padahal mereka belum mencoba membuktikannya, belum mencoba melakukan yang sebaliknya dari yang diucapkan.

Semakin parah langkahnya, ketika mereka mencari solusi yang jauh dari cara-cara islami, seperti melakukan riba, menyogok, mengeluh dan kurang bersyukur.

Saya tidak bisa memaksa mereka untuk tidak melakukan itu, karena saya sendiri dengan kondisi ekonomi yang insya Alloh alhamdulillah sudah lebih baik, namun masih belum juga memiliki rumah sendiri.

Namun disini saya mencoba mengkaji dari idealisme yang saya yakini, dari ilmu islami yang sedikit ini, semoga bisa saling mengingatkan menuju ke jalan-Nya.

Bahwa sejatinya, semua masalah yang datang kepada kita adalah teguran keras dari Alloh agar kita lebih mendekat lagi pada-Nya.

Mendekat disini adalah melakukan ibadah yang sesuai perintahnya dan menjauhi larangannya. Kita diminta introspeksi diri, tugas apa yang kurang yang seharusnya ditunaikan sebagai hamba-Nya.

Bisa jadi ibadahnya suka ditinggal, yang subuh kesiangan, yang dhuhur kekenyangan, yang ashar ketiduran, yang maghrib masih dijalan, yang isya kecape’an. Sedekahnya ditunda jika rejeki berlimpah. Lengkaplah  sudah sehingga tak heran jika ada predikat agama islam hanya di KTP saja. Akhirnya Alloh menjauh dari mereka.

Karena Alloh semakin jauh, maka semuanya kelihatan susah, buntu, hanya melihat satu jalan yang itu-itu saja, seolah-olah tidak ada jalan lain. Dan ternyata jalan tersebut malah jalan yang membuat keadaan lebih terpuruk.

Tak heran jika hal yang mirip-mirip cerita di atas bisa terjadi secara berulang-ulang pada orang yang sama. Seperti terperosok di lubang yang sama secara berulang-ulang.

Padahal saat kejadian tersebut terjadi pertama kali, Alloh sudah menegur untuk segera mendekat kepadanya, namun karena sudah dibutakan dengan belief yang dia yakini, maka ya suatu saat bakal terjadi kejadian yang hampir mirip-mirip, sampai akhirnya menyadari bahwa harus kembali kepadaNya.

Cara untuk memutus rantai kejadian yang open loop tersebut ya salah satunya dengan taubat, meminta maaf atas apa yang sudah dilakukan dan diyakini yang tak sesuai ajaranNya.

Meminta maaf-lah kepada-Nya, kembalilah pada-Nya. Agar kondisi yang terpuruk ini bisa dibalikkan-Nya menjadi kondisi yang lebih baik.

Karena Alloh-lah yang menurunkan derajad hambanya, dan Alloh jugalah yang bisa menaikkan derajad hambanya. Alloh yang memberi masalah, maka Alloh juga yang akan memberi solusi. Alloh-lah yang membolak-balikkan hati manusia, Yaa Muqollib Al Qulub.

 

Meminta maaf atas segala kesalahan

Kalimat saran pertama yang sering kita dengar ketika melakukan kesalahan, seperti : marah besar, adalah :

Istighfar mas … nyebut mas … nyebut“.

اَسْتَغْفِرُ اَللّهَ الْعَظِیْمَ

Astaghfirulloh hal adziim

Aku mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung

Coba ucapkan kalimat diatas dengan sepenuh hati, resapi artinya. Baca berulang-ulang hingga serasa segala beban terlepas, enteng, dada jadi plong.

Ucapkan istighfar berkali-kali, sambil menarik napas yang panjang dari hidung mengeluarkan dari mulut. Sadari dan akui segala kesalahan kita dan meminta maaf atas segala kesalahan yg sudah dibuat. Dan setelahnya, kita harus berusaha untuk tidak mengulanginya lagi (taubat nasuha).

Kalau kata ustadz YM, perbanyaklah istighfar, dzikir, sholawat masing-masing minimal 100 kali dalam 1 hari. Bisa dilakukan dikapan saja, tapi utamakan dilakukan di waktu-waktu mustajab, setelah sholat, antara adzan dan iqomah, setelah ashar, pas waktu turun hujan.

Kemudian, berusahalah melakukan ibadah-ibadah yang diwajibkan, seperti sholat fardhu. Yang biasanya bolong-bolong, sekarang diperbaiki, sholatnya tepat waktu dan di masjid … sekali lagi di masjid (bagi pria). Lalu lengkapi dengan sholat sunnah yang sangat dianjurkan, seperti sholat sunnah taubat, tahajjud, hajjat, dhuha, qobliyah dan ba’diyah.

Tambahin juga baca Al-Qur’annya+terjemahan, puasa sunnahnya, mau senin kamis bisa, atau puasa daud bisa, sehari puasa sehari tidak. Dan jangan lupa sedekahnya, tumbuhkan perasaan syukur alhamdulillah ketika bisa memberikan sedekah kepada yang membutuhkan. Barengi dengan niat yang ikhlas.

Sering-seringlah silaturrahim, dimana ia-nya sebagai pembuka rejeki. Ingat, rejeki tidak datang langsung turun dari langit. Tapi rejeki datang dititipkan lewat ke sesama kita. Maka selain perbaiki kualitas hubungannya dengan Alloh, perbaiki juga hubungan dengan manusia.

Lakukan dengan sabar dan niat mengharap ridho-Nya. Karena saya sendiri meyakini bahwa segala kesuksesan berawal dari ridho-Nya. Lakukan kesemuanya hingga menjadi suatu kebiasaan.

Kalaupun kita merasa sepertinya Alloh belum membantu, tetaplah sabar dan selalu berprasangka baik kepada-Nya.

Ingat, Alloh adalah prasangkaan hambanya. Alloh aja bersabar dari dulu menunggu kita bertobat, sabar tidak segera mencabut nyawa kita, agar kita bisa memperbaiki amal dan perbuatan kita.

Jika Alloh tidak memberi apa yang kita minta, bisa jadi itu adalah pemberian terbaik. Tidak memberi = pemberian terbaik. Karena mungkin jika Alloh mengabulkan doa, mungkin kita nanti malah akan menjauh dariNya.

Atau bisa jadi Alloh telah memberi bantuan/jawaban, tapi kitanya saja yang kurang peka, buka mata, buka hati dan buka pemikiran. Karena kita tidak tahu mana yang terbaik buat kita, dikiranya itu tidak baik untuk kita dan mengacuhkannya. Apa yang terbaik di mata kita belum tentu baik di mata Alloh, begitu pula sebaliknya.

Coba ingat bacaan kita waktu sholat di surat Al-Fatihah,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” (QS. 1:5).

Coba baca artinya pelan-pelan.

Menurut pengetahuan saya yang masih awam, pernah saya baca di suatu buku, ayat di atas menyebutkan bahwa kita dianjurkan untuk menyembah (beribadah) dulu kepada-Nya, baru kemudian kita meminta pertolonganNya.

Begitulah adab ketika meminta pertolonganNya. Indah kan?

Ketika kita beribadah dan tidak buru-buru meminta pertolongan, itu adalah bentuk penghambaan kita kepadaNya, tidak mendikteNya, tidak memaksaNya.

Kita mengakui bahwa kita cuma diibaratkan wayang dan Alloh adalah dalang yang tahu mau dibawa kemana cerita kehidupan kita.

Setelah dirasa cukup beribadah (kira-kira 40 hari) tanpa putus, dan sudah menjadi hal yang biasa, maka silakan meminta pertolongan.

 

Alloh dulu, Alloh lagi, Alloh terus

Ketika sudah terbiasa melakukan ibadah yang bertujuan mendekatkan diri kepadaNya, maka ketika kita dihadapkan lagi terhadap suatu tantangan, gunakanlah konsep ‘Alloh dulu, Alloh lagi, Alloh terus‘.

Saya sangat suka konsep ‘Alloh dulu, Alloh lagi, Alloh terus‘ yang didengungkan oleh ustadz YM saat beliau ceramah.

Maksud konsep tersebut adalah ketika kita dihadapkan suatu masalah/cobaan/pilihan, mengadulah dahulu (Alloh dulu) ke Yang Maha Memberi Jawaban, Maha Pemberi Petunjuk, ini harus di gimanakan, ini harus pilih yang mana. Mengadu bisa lewat tahajjud atau doa.

Ketika kita sudah mantap/yakin dengan yang kita pilih dan menjalani apa yang sudah dipilih, lalu mengadu lagi (Alloh lagi) mohon diberi kemudahan, keberkahan, kebermanfaatan.

Lalu setelah berhasil, kita jangan jumawa/sombong, karena keberhasilan tak lain karena pertolonganNya, lalu ngadu lagi (Alloh terus) berterima kasih, bersyukur, menyisihkan sebagian rejeki untuk sedekah, mengajarkan ke teman lainnya tentang konsep ini.

Ternyata konsep seperti ini, juga tersirat di kitab Al-Hikam. Baru kemarin-kemarin saya mengetahuinya, gara-gara mendengarkan audio ceramah KH. Yazid Bustomi yang membahas tentang kitab Al-Hikam.

Kurang lebih isi ceramahnya seperti ini,

Ketika kita memutuskan sesuatu/memilih sesuatu tanpa meminta persetujuan Alloh/tanpa menyandarkannya ke Alloh dan hanya berdasarkan menuruti hawa nafsu saja, maka Alloh akan membebankan semua masalah yang terjadi setelahnya kepada kita dan DIA tidak akan menolongnya, namun jika sebaliknya, maka Alloh akan memberi keberkahan dan kemudahan dalam perjalanannya, mendekatkan hal-hal yang dianggap tidak mungkin menjadi mungkin“.

Ini link yang bisa temans download, pembelajaran tentang kitab Al-Hikam, yang disampaikan oleh KH. Yazid Bustomi (bahasa jawa), dan yang ini yang disampaikan oleh ustadz Buya Yahya dari Cirebon (bahasa Indonesia).

***

So, temans, yang bijak ya dalam memilih belief dan memutuskan segala sesuatunya. Buang jauh-jauh belief yang tak memberdayakan.

Selalu libatkan Alloh Yang Maha memiliki Hidup dan Mati kita, dalam setiap perjalanan hidup kita.

Semoga info yang sedikit ini tidak terkesan menggurui, karena sejatinya saya tak lebih baik dari temans sekalian, kita sama-sama berusaha untuk menjadi yang lebih baik dan bermanfaat buat yang lainnya.

Saya hanya menyampaikan pesan yang tentunya kebenaran datangnya dari Alloh dan kalau salah, datangnya dari saya sendiri yang masih cetek ilmunya.

Perbuatan jahat itu menular, begitu juga dengan perbuatan baik. Jika temans merasa catatan saya bisa membuat temans menjadi lebih baik, maka tularkanlah kepada temans lainnya, biar nanti bisa menjadi catatan kebaikan untuk kita semua.

 

Terima kasih.

Wasalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Advertisements

2 thoughts on “Kembali KepadaNya

  1. Sebuah renungan yang dalam Mas. Hidup ini terlalu indah untuk tidak narimo dan andai saja setiap yang otomatis ini dijadikan manual, mungkin kita akan lupa merem, lupa detakin jantung, lupa pompa darah, dan seterusnya. Tapi kita kita jadi terlalu sensi dan banyak mendikte Tuhan.

    Tulisan yang indah. Salam kenal.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s